Pendakian Malam Gunung Pamaton, Jangan Terlalu Banyak Minum Jika Tidak M...
PRASASTI GUNUNG PAMATON
Gunung Pamaton diketahui ada 2 nama yaitu Pamaton dan Pamuatan.
Disebutkan bahwa digunung Pamaton terdapat pintu masuk kedunia ghaib yang diberi nama Pintu Gerbang Kerajaan Pamaton, tempat Yang Mulia Sri Paduka Pangeran Suryanata bertahta. Diketahui Kerajaan Pamaton adalah pusat kerajaan ghaib di Kalimantan (Kerajaan Banjar). Sejak zaman dahulu hingga sekarang gunung Pamaton dijadikan tempat tirakat atau bertapa oleh siapapun yang ingin mencari harta, ilmu dan kesaktian/kedikdayaan. Hanya orang yang dikehendaki atau zuriat yang mendapat ridho dari Allah SWT yang dapat melihat kerajaan ghaib ini. Berdasarkan cerita orang-orang yang pernah masuk ke Kerajaan Ghaib ini, kehidupan di Pamaton sangat modern dan ramai sekali.
Yang Mulia Sri Paduka Pangeran Suryanata adalah seorang putera Raja Majapahit, bertahta di Kerajaan Banjar pada abad XIV Masehi. Beliau mempunyai 2 orang putera yaitu Pangeran Surya Gangga Wangsa dan Pangeran Surya Wangsa. Pada suatu hari Yang Mulia Pangeran Suryanata bersama permaisuri Puteri Junjung Buih mengadakan kerasmin (acara keramaian) luar biasa serta menjamu semua pejabat kerajaan dan masyarakat. Tatkala semua orang sedang asyik dan ramai, tiba-tiba Yang Mulia Pangeran Suryanata berbicara pada rakyat Negeri Banjar, bahwa Baginda akan kembali pulang ketempat asalnya (kayangan) dan memberi petuah-petuah untuk dilaksanakan dan di indahkan sepeninggalnya nanti, agar rakyat negeri Banjar selalu tenteram, damai dan sejahtera. Setelah berbicara dengan sekejap ghaib lah Baginda beserta Permaisuri. Ketika itu umur Baginda kira-kira 50 tahun.
Selanjutnya Pangeran Surya Gangga Wangsa diangkat menjadi Raja dengan Gelar Maharaja Surya Gangga Wangsa dan Lambung Mangkurat tetap menjadi Mangkubumi. Dari keturunan Yang Mulia Pangeran Suryanata lahir raja-raja banjar selanjutnya hingga sekarang.
Seorang raja akan diangkat harus melalui upacara badudus dengan air yang diambil dari sumber mata air yang diambil diantaranya dari Candi Agung Amuntai, Batu Tiring, Candi Laras dan Gunung Pamaton.
Gunung Pamaton adalah sebuah gunung di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Digunung ini pernah terjadi peristiwa sejarah terkait dengan peristiwa Perang Banjar (1859-1905)
Gunung Pamaton disebut sebagai tanda batas wilayah Kesultanan Banjar dan wilayah kekuasaan Belanda, dalam kontrak perjanjian Kesultanan Banjar dengan Belanda tanggal 04 Mei 1826 (26 Ramadhan 1241).
Gunung Pamaton juga disebut dalam surat wasiat Sultan Adam Al Wasik Billah yang dibuat pada Senin, 12 Shafar 1259. yaitu batas wilayah yang diberikan kepada Pangeran Hidayatullah.
Pada masa Perang Banjar, Gunung Pamaton dijadikan basis pejuang, benteng perlawanan dan tempat pertempuran melawan colonial Belanda. Berikut beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang berhubungan dengan situs Gunung Pamaton pada masa Perang Banjar.
1. Perang Banjar dimulai tanggal 18 April 1859 ditandai penyerangan benteng Belanda di tambang batubara Oranye Nassau, Pengaron. Serangan dilakukan para pejuang dari Muning Pimpinan Pangeran Antasari yang berbasis disekitar Riam Kiwa dan Gunung Pamaton.
2. Juni 1861. Pangeran Hidayatullah mengatur rencana serangan umum terhadap Kota Martapura pada tanggal 20 Juni 1861, sayangnya rencana itu bocor, Pasukan Belanda yang di pimpin Mayor Koch melakukan serangan secara besar-besaran sebelum serangan umum ke benteng Gunung Pamaton. Serangan ini dapat digagalkan dan banyak menimbulkan korban dipihak Belanda seperti Letnan TerDwerde, Kopral Grimm dan beberapa serdadu Belanda lainnya.
3. Agustus 1861, kembali Mayor Koch memimpin pasukan menyerbu Benteng Pamaton, namun sekali lagi usaha menangkap Pangeran Hidayatullah gagal, karena benteng terlebih dahulu dikosongkan.
4. Benteng Gunung Pamaton dipertahankan oleh para pemimpin perang yang gagah berani, seperti Pangeran Hidayatullah Demang Lehman, Tumenggung Gamar, Kiai Puspa Yuda Negara dan pahlawan wanita Kiai Cakrawati.
KARANG INTAN, PAMATON. 10 MUHARRAM 1433 H
TTD.
RAJA MUDA KHAIRUL SALEH
0 Response to "Pendakian Malam Gunung Pamaton, Jangan Terlalu Banyak Minum Jika Tidak M..."
Post a Comment